Rabu, 13 Juli 2011

PERTAMA DICIPTAKAN ALLAH SWT ?


Telah diketahui bahwa hadis-hadis yang menyatakan bahwa makhluk pertama adalah itu atau ini … dan seterusnya, tidak satu pun yang shahih, sebagaimana ditetapkan oleh para
ulama Sunnah.
Oleh karena itu, kami dapatkan sebagian bertentangan dengan sebagian lainnya. Sebuah hadis mengatakan, “Bahwa yang pertama kali diciptakan oleh Allah adalah pena.”
Hadis lainnya mengatakan, “Yang pertama kali diciptakan Allah adalah akal.” Telah tersiar di antara orang awam dari kisah-kisah maulid yang sering dibaca bahwa Allah
menggenggam cahaya-Nya, lalu berfirman, “Jadilah engkau Muhammad.” Maka ia adalah makhluk yang pertama kali diciptakan Allah, dan dari situ diciptakan langit, bumi dan seterusnya.
Dari itu tersiar kalimat:
“Shalawat dan salam bagimu wahai makhluk Allah yang pertama,” hingga kalimat itu dikaitkan dengan adzan yang disyariatkan, seakan-akan bagian darinya.
Perkataan itu tidak sah riwayatnya dan tidak dibenarkan oleh akal, tidak akan mengangkat agama, dan tidak pula bermanfaat bagi perkembangan dari peradaban dunia.
Keawalan Nabi Muhammad SAW sebagai makhluk Allah tidak terbukti, seandainya terbukti tidaklah berpengaruh pada keutamaan dan kedudukannya di sisi Allah. Tatkala Allah Ta’ala memujinya dalam Kitab-Nya, maka Allah memujinya dengan alasan keutamaaan yang sebenarnya. Allah berfirman:
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar orang yang berbudi pekerti agung” (Q.s. Al-Qalam: 4).
Hal itu yang terbukti dan ditetapkan secara mutawatir. Nabi kita Muhammad SAW adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib Al-Hasyimi Al-Quraisy yang dilahirkan lantaran kedua orang tuanya, Abdullah bin Abdul Muththalib dan Aminah binti Wahb, di Mekkah, pada tahun Gajah. Beliau dilahirkan sebagaimana halnya manusia biasa dan dibesarkan sebagaimana manusia dibesarkan. Beliau diutus sebagaimana para Nabi dan
Rasul sebelumnya diutus, dan bukan Rasul yang pertama di antara Rasul-rasul.
Beliau hidup dalam waktu terbatas, kemudian Allah memanggilnya kembali kepada-Nya:
“Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula).” (Q.s. Az-Zumar: 30).
Beliau akan ditanya pada hari Kiamat, sebagaimana para Rasul
ditanya:
“(Ingatlah) hari di waktu Allah mengumpulkan para Rasul, lalu Allah bertanya (kepada mereka), ‘Apa jawaban kaummu terhadap (seruan)mu?’ Para Rasul menjawab, ‘Tidak ada pengetahuan kami (tentang itu) sesungguhnya Engkau-lah yang mengetahui perkara yang gaib’.” (Q.s. Al-Maidah: 109).
Al-Qur’an telah menegaskan kemanusiaan Muhammad SAW Di berbagai tempat dan Allah memerintahkan menyampaikan hal itu kepada orang-orang dalam berbagai surat, antara lain:
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukann kepadaku, Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa …’.” (Q.s. Al-Kahfi : 110).
“Katakanlah, ‘Maha Suci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi Rasul?’” (Q.s. Al-Isra’: 93).
Ayat di atas menunjukkan bahwa beliau adalah manusia seperti manusia-manusia lainnya, tidak memiliki keistimewaan, kecuali dengan wahyu dan risalah.
Nabi SAW menegaskan makna kemanusiaannya dan penghambaannya terhadap Allah, dan memperingatkan agar tidak mengikuti kebiasaan-kebiasaan dari orang-orang sebelum kita, yaitu penganut agama-agama terdahulu dalam hal memuja dan menyanjung:
“Janganlah kamu sekalian menyanjungku sebagaimana kaum Nasrani menyanjung Isa putra Maryam. sesungguhnya aku adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.” (H.r. Bukhari).
Nabi yang agung ini adalah manusia seperti manusia lainnya dan tidak diciptakan dari cahaya maupun emas, tetapi diciptakan dari air yang memancar dan keluar dari tulang
sulbi laki-laki dan tulang rusuk wanita sebagai bahan penciptaan Muhammad SAW
Adapun dari segi risalah dan hidayat-Nya, maka beliau adalah cahaya Allah dan pelita yang amat terang. Al-Qur’an menyatakan hal itu dan berbicara kepada Nabi SAW:
“Wahai Nabi sesungguhnya Kami mengutusmu untuk menjadi saksi dan pembawa kabar gembira serta pemberi peringatan. Untuk menjadi penyeru pada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk menjadi cahaya yang menerangi.”(Q.s. Al-Ahzab: 45-6).
Allah swt. berfirman yang ditujukan kepada Ahlulkitab:
“… Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan.” (Q.s. Al-Maidah: 15).
“Cahaya” dalam ayat itu adalah Rasulullah saw, sebagaimana Al-Qur’an yang diturunkan kepada beliau adalah juga cahaya.
Allah swt. berfirman:
“Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya serta cahanya (Al-Qur an) yang telah Kami turunkan.” (Q.s. At-Taghaabun: 8).
“… dan telah Kami turunkan kepada kamu cahaya yang terangbenderang.” (Q.s. An-Nisa’: 174).
Allah telah menentukan tugasnya dengan firman-Nya:
“… Supaya kamu mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya terang-benderang…” (Q.s. Ibrahim: 1).
Doa Nabi SAW:
“Ya Allah, berilah aku cahaya di dalam hatiku berilah aku cahaya dalam pendengaranku dan berilah aku cahaya dalam penglihatanku berilah aku cahaya dalam rambutku berilah aku cahaya di sebelah kanan dan kiriku di depan dan di belakangku.” (H.r. Muttafaq Alaih)
Maka, beliau adalah Nabi pembawa cahaya dan Rasul pembawa hidayat. Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang-orang yang mengikuti petunjuk cahaya dan Sunnahnya. Amin.

sumber : mohon maaf lupa

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar